Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Anak yang Unas, Bunda yang Cemas
health detik

Anak yang Unas, Bunda yang Cemas

Siang yang panas. Para orang tua yang mau menjemput anak mereka tampak asyik mengobrol. Seru juga ternyata percakapan mereka. Mengalahkan anak-anak mereka kalau sedang berkumpul. Seorang Ibu muda yang tampak berpakaian kekinian dengan jilbab modis memulai pembicaraan.

“Duh rasanya ikut deg-degan kalau anak-anak pas ujian begini ya Bu,”

“Iya, saya juga. Rasanya nggak karuan. Kira-kira bisa tidak ya,” sahut yang lain.

“Sama, anak-anak yang unas, eh kita yang cemas. Apalagi anak saya kalau disuruh belajar alasannya macam-macam,”

“Sama, anak saya sering tak fokus kalau belajar. Baru sebentar membaca sudah bilang lelah,”

“Saya juga cemas, padahal anak saya termasuk rajin, tetapi malah sakit. Pilek, batuk, panas dingin. Jadi khawatir juga, takut tidak maksimal,”

Begitulah sekilas kudengar obrolan mereka. Sikap yang wajar dan sering kita rasakan. Kecemasan ketika buah hati kita sedang menghadapi ujian. Mengapa rasa ini begitu mengganggu pikiran para Bunda? Ya..itu wajar bagi orang tua, apalagi notabene bunda yang cenderung lebih dekat dengan anak-anak mereka. Kekhawatiran yang terkadang lebih besar dari perasaan si anak itu sendiri. Seorang ibu sangat hafal dan paham betul dengan kemampuan anak-anak mereka, sehingga ketika ujian datang mereka pun seakan ikut merasakan keresahan dan kebingungan anak-anak mereka.

Rasa cemas dan khawatir ini harus dikelola dengan baik agar tidak berpengaruh pada psikis anak-anak kita. Jangan samapai ketika ujian para bunda justru membebani anak dengan perkataan atau tindakan yang justru mengganggu mereka. Wujudkan dengan perhatian, suport atau menyiapkan menu makanan yang sehat dan bergizi selama ujian.

Lebih positif lagi kalau rasa cemas ini datang di awal tahun pembelajaran. Ketika anak masuk di jenjang awal tahun pembelajaran mestinya para orang tua sudah bersiap, sehingga bisa mengontrol dan membersamai proses belajar putra-putri mereka. Anak-anak pun akan lebih siap dan mudah belajar bila proses dimulai dari awal. Sayangnya tidak banyak yang menyadarinya. Banyak yang santai atau sibuk dengan urusan sendiri sehingga tanpa terasa waktu ujian sudah tiba. Akhirnya kelabakan. Seminggu menjelang ujian baru fokus dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar. Ke sana ke mari mencari les privat. Harapan masih bisa digenjot. Tidak hanya anak yang menjadi stres, tetapi para bunda pun juga lebih stres. Hal yang tentu saja sangat kurang tepat. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk proses pada jenjang selanjutnya.

Bunda, tak perlu kita cemas atau risau, selama sudah memberikan bekal yang maksimal kepada anak-anak kita. Bekal yang maksimal tentu harus dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Jangan sampai para bunda kehilangan momentum-momentum belajar putra-putri kita. Mari siapkan lebih awal agar kita tak cemas kemudian.

Ikatan hati antara bunda dan anaknya memang sangat dekat. Kelola cemas dengan bijak agar anak-anak bisa belajar dengan baik. Hidup adalah pinjaman. Dan kita sudah diberi kepercayaan untuk mengolah dan mengatur pinjaman agar bermanfaat sampai saatnya harus dikembalikan. Selama ikhtiar sudah dilakukan, maka pasrahkan hasilnya pada Sang Mahakuasa. Jadi tak perlu cemas ketika anak unas ya Bunda...

Rumahku,28042019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Yah namanya Bunda. Kecemasannya terkadang melebihi yang menjalani. Salam bahagia bunda Lupi!

28 Apr
Balas

Betuul Pak..kalo ngga begitu bukan emak namanya ya...sehat dan sukses Pak Agus.. Barakallah

28 Apr

BTW ini tidak di Indonesia kan? He...he..he.. Habis gambarnya anak bule.

28 Apr
Balas

Hehehe....nyari gambar lokal ngga nemu...Salam bahagia Pak..

28 Apr

Sayangnya, rasa cemas muncul di ujung cerita, gitu ya....Bu Guru? Andai di awal cerita, pasti hasilnya jadi lebih baik lagi. Semoga anak-anak berhasil meraih cita-citanya. Mengobati kecemasan orang tua, terkhusus para bunda. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru.

28 Apr
Balas

Betuuul Bunda..Andau dari awal bisa dikelola, maka kecemasan akan menjadi hal ppsitif yang menuntun ke arah yang lebih baik. Terima kasih dah singgah Bunda.. Barakallah..

28 Apr

Yah begitulah orang tua. Apa yang dirasa anak, orang tua merasakannya. Bahkan sang anak tak merasakannya orang tuanya yang merasakannya. Hehe. Tetap semangat, barakallah...

28 Apr
Balas

Betuuul...dan memang seharusnya begitu. Tinggallah mengelola kecemasan dengan baik dari awal agar tak ada penyesalan...semangat pagi Sobat...barakallah ya

28 Apr

Kelola cemas dengan bijak , kelola hati, emosi dan pikiran juga .....agar anak-anak bisa belajar dengan baik. Sukses bunda Upik...

29 Apr
Balas

Sepakat Bunda...Terima kasih sudah singgah.. Barakallah Bund..

29 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali