Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya

Ijah Ingin ke Jakarta

Malam kian larut, tapi Ijah masih juga terjaga. Kegalauan hatinya masih mengganggu pikiran. Masih terngiang kata-kata Emak yang tak mengizinkannya untuk pergi ke Jakarta, ikut Mbak Sumi.

"Mau cari apa Ndhuk ke Jakarta, di sini saja Emak sudah senang. Nanti kalau kamu ke sana, siapa yang mbantuin Emak bikin gorengan," jawab Emak ketika Ijah mengutarakan niatnya.

"Aku ingin cari pengalaman Mak, biar seperti tetangga yang lain. Nanti kalau Ijah sudah kerja di Jakarta, Emak tak usah repot-repot bekerja Mak," kata Ijah.

"Jakarta itu kejam Ndhuk kalau tidak punya pengalaman dan pendidikan yang tinggi. Di sini saja semua sudah ada. Rumah tak perlu besar-besar. Emak sudah cukup senang seperti ini," kilah Emak.

"Tapi Mak, kata Mbak Sum ada lowongan di tempatnya bekerja. Aku langsung diterima kerja, tak perlu repot-repot,"

"Memang Sum kerja apa?" tanya Emak

"Di pabrik Mak," jawab Ijah

"Pabrik apa? Kamu tak tahu kan. Pokoknya kamu tak boleh pergi ke Jakarta,"

Ijah menghela napas panjang. Dia tahu Emak sangat menyayanginya, kalau sampai tidak mengizinkan pasti punya alasan yang kuat. Sebenarnya Ijah hanya ingin memperbaiki ekonomi keluarga saja. Tinggal di dusun terpencil, jauh dari keramaian kota dan pas-pasan kadang membuat Ijah ingin meninggalkan dusunnya itu. Banyak para tetangga seusianya yang merantau ke Jakarta. Tiap lebaran mereka mudik, dengan membawa banyak oleh-oleh dan pasti uang yang banyak. Terlintas dalam pikiran Ijah untuk ikut merantau seperti mereka, tetapi Emak selalu tak mengizinkan.

Sementara ini mereka hanya hidup berdua, mengandalkan jualan gorengan tiap hari pasaran. Sejak lulus SMP Ijah sudah membantu emaknya berjualan. Memang cukup buat makan, tetapi untuk hal-hal lain selalu seadanya.

"Belum tidur Ndhuk?" suara Emak mengagetkan Ijah

"Eh Emak, belum Mak. Emak juga belum?"

"Emak tahu kamu masih ingin ke Jakarta kan Ndhuk? Mengapa Emak tak membolehkan? Sumi itu tidak kerja di pabrik, tetapi jadi asisten rumah tangga. Emak yakin kamu di sana nanti pasti juga hanya jadi pembantu. Emak tak rela anak Emak diauruh-suruh orang lain Ndhuk. Iya kalau majikanmu baik, kalau tidak. Kita cuma berdua saja di dunia ini. Kalau kami ke Jakarta, Emak sama siapa? Di sini lebih enak, kita bisa menanam sayuran, membuat gorengan dan mengolah sedikit lahan peninggalan bapakmu. Emak juga sudah tua Ndhuk.Apa kamu tega meninggalkan Emak sendirian?

" Maafkan Ijah Mak, yang terbujuk ajakan Mbak Sumi. Ijah akan tetap di sini Mak. Tak perlu ke Jakarta untuk mencari rezeki, di sini juga banyak.Makasih Mak," Ijah memeluk erat Emaknya.

Emak tersenyum dan mengelus rambut anak kesayangannya itu. Dalam hati Emak sangat bersyukur, akhirnya Ijah tak jadi pergi.

"Aku tak ingin kau merasakan seperti apa yang pernah Emak rasakan Ndhuk," bisik Emak lirih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Banyak orang yang mudah tergiur untuk bekerja di Jakarta. Padahal, di Jakarta entah bekerja apa. Belum tentu sesuai dengan yang dibayangkan semula. Bersyukur Ijah tak jadi tergiur. Meski hidup di kampung, tapi jika merasa tenteram tentu itu lebih baik daripada hidup di Jakarta tapi menderita.

11 Jun
Balas

Benar Pak Biar hidup seadanya di desa asal hati tentram dan bahagia.. Terima kasih Pak Edi..

11 Jun

Jadi terharu Bund, padahal apa yang terlihat, belum tentu yang sebenarnya. Sukses selalu dan barakallahu fiik

11 Jun
Balas

Begitulah Bund...terkadqng tak seindah apa yang terlihat. Barakallah Bund

11 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali