Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti...

Selengkapnya
Kisahmu Mengingatkanku

Kisahmu Mengingatkanku

Gempa Lombok, Gempa Palu dan Donggala, mengingatkanku kembali pada gempa yang pernah kami alami beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Mei 2006. Gempa dengan skala 5,9 SR menggoncang Bantul dan sekitarnya. Tidak mudah melupakan. Masih lekat dalam ingatan, meninggalkan trauma dalam jiwa. Waktu itu hari masih begitu pagi, aku baru mempersiapkan sarapan pagi . Suami sedang berada di ruang depan, sementara aku dan anakku berada di ruang tengah. Tiba-tiba kaca jendela ruangan bergetar sangat keras, spontan kugendong anakku berlari ke belakang rumah sambil berteriak agar suami segera keluar rumah. Bumi benar-benar seperti tikar yang dikibaskan…

Allahu akbar…meski berulang kali terjatuh, aku berusaha untuk terus bangun dan tak melepas gendongan anakku. Terlintas dalam benakku, apa yang terjadi ? aku berpikir, apakah ini kiamat? Ya Allah..aku mohon beri kami kesempatan, aku masih banyak melakukan khilaf dan dosa, itulah yang terbersit dalam benakku waktu itu. Aku hanya minta diberi kesempatan agar bisa memperbaiki diriku yang masih lalai, sambal terus kupeluk anakku yang ketakutan. Kudengar suara orang-orang berteriak bertakbir, memohon pertolongan. Selang beberapa waktu goncanganpun berhenti, tangispun pecah di mana-mana, kami bertigapun akhirnya berpelukan , dan kami baru menyadari tembok-tembok rumah kami sudah ambrol, tinggal pintu yang masih berdiri. Namun semua tetap kami syukuri, karna Allah masih melindungi. Robohnya tembok tidak menimpa kami. Kami berusaha keluar dari puing-puing bata, ternyata di luar sungguh ngeri. Rumah-rumah tetanggapun juga rata dengan tanah, bahkan ada yang masih terjebak dalam rumah. Kamipun saling membantu untuk bisa keluar dari reruntuhan. Listrik padam, ponselpun tak sempat kami bawa, tak ada yang bisa dihubungi. Kamipun berkumpul di depan rumah yang kebetulan masih ada lahan kosong. Sementara beberapa yang terluka diobati seadanya. Sementara goncangan demi goncangan masih terus bertubi, meski tidak sebesar yang pertama. Tidak selang berapa lama, tiba-tiba isu tsunami datang, orang-orang berlain sambal berteriak, tsunami, tsunami….. Kembali panik dan ketakutan. Hampir saja aku ikut berlari. Untung suamiku menenangkan dan mengingatkanku. Jarak rumah kami sangat jauh dari pantai, jadi seandainya ada tsunami tidak mungkin sampai. Dalam kondisi panik dan takut, semua tidak bisa berpikir dengan logika, isu dengan mudah disebarkan hingga banyak yang kurang perhitungan, ikut berlari tanpa tujuan.

Trauma gempa tidak bisa hilang begitu saja, setiap kaca bergetar, refleks untuk lari keluar rumah. Bahkan sampai sekarangpun kadang masih demikian. Hidup di tenda dalam waktu berbulan-bulanpun kami rasakan, hingga menambah ikatan persaudaraan dengan para tetangga. Saling berbagi saling menguatkan, bergotong royong membenahi rumah. Dahulu sebelum gempa hanya bertegur sapa seperlunya, kini terasa semakin akrab dan dekat.

Dan ketika berita gempa menimpa lain daerah, kamipun berempati, karena memang kami pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan untuk semuanya. Sesungguhnya hanya kepada –Nya lah kita mohon pertolongan dan perlindungan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mbak Lupi, aku sesegukkan membaca ini. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya untuk kita. Aamiiin ya rabbal alamiin.

29 Sep
Balas

Aamiin... Waktu menuliskanpun aku juga begitu Dik, sampai anakku bertanya dan penasaran...sampai kini masih begitu jelas di ingatan, terlebih ketika bencana yang sama datang di lain tempat, rasa itu begitu menyesakkan, kamipun rasakan pedihnya...Semoga senantiasa dalam Lindungan -Nya ya, di manapun kita berada..aamiin

29 Sep

Semoga Allah memberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran pada seluruh saudaraku korban gempa. Membaca tulisan bunda, "rasa" ini bergetar membayangkan apa yang dirasakan saudara-saudaraku. Sewaktu gempa tsunami di Aceh, ada keluarga tetangga yang selamat yang kemudian dibawa ke Medan yang kebetulan tetangga kami. Saya melihat sendiri betapa anak itu sangat trauma. Ketika kebetulan memasuki pergantian bulan, kebetulan gambar pada kalender adalah gambar ombak di lautan. Si anak berlarian keluar rumah demi melihat gambar ombak laut di kalender itu. Dia teringat akan gelombang tsunami yang menerjang. Sungguh kasihan. Semoga Allah akan selalu limpahkan rahmaan dan rahiim-Nya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bunda.

29 Sep
Balas

Aamiin, terimakasih Bunda...kutuliskan dengan air mata, mengingat kisah ini Bun, trauma itu begitu lama, hari-hari penuh ketakutan, sampai kita benar-benar pasrah pada Sang Empunya..Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah ya Bunda....salam...

29 Sep

Aamiin ya robbal alaamiin.

30 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali