Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Lima Menit Saja!
tribunnews

Lima Menit Saja!

Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.20. Kang Karyo bersiap berangkat bersama anak gadisnya Mentari yang baru memakai sepatu hitamnya.

" Segera berangkat Bu, ntar kalau kesiangan jalannya ramai lho," kata Kang Karyo sambil mengeluarkan si biru kesayangan Yu Jum.

"Iya Kang, bentar lagi juga siap koq, tanggung nih," jawab Yu Jum sambil memoleskan lipstik tipis-tipis.

"Ga usah tebel-tebel, menor!" seru Kang Karyo mengingatkan istrinya yang masih asyik di depan kaca.

"Cieee...Ayah cemburu ya?" sahut Mentari sambil tertawa.

"Tidak Dik, biar tak berlebihan saja ibumu kalau dandan," kilah Kang Karyo.

"Ashiaaap Yah. Dah rapi kan?" jawab Yu Jum sambil tersenyum.

"Adik berangkat sama Ayah dulu ya Bu, doakan," pamit Mentari sambil menyalami Yu Jum.

"Iya, hati-hati ya sayang. Pegangan Ayah,” jawab Yu Jum melepas suami dan anaknya berangkat.

“Sudah ya Bu, jangan lupa kunci pintu!”

“Iya Kang, hati-hati,”

Setelah mengunci pintu Yu Jum pun segera berangkat ke tempat kerjanya yang tidak begitu jauh. Sekitar 8 km dari rumah. Meskipun tergolong dekat, tapi jalan yang dilalui termasuk jalan propinsi yang ramai lalu lintas. Benar saja dugaan Yu Jum. Lalu lintas kali ini ramai sekali. Pemandangan yang sama tiap hari, pengendara dari arus berlawanan selalu makan jalan. Hampir tiga perempat jalan dikuasai. Benar-benar membuat tidak nyaman pengguna jalan yang lain. Mereka pikir nenek buyutnya saja yang punya jalan, padahal nenek buyutku juga punya, pikir Yu Jum.

Semua pengendara berpacu dengan waktu. Memikirkan diri sendiri tanpa peduli pada orang lain. Ngebut , menerobos lampu merah, dan makan jalan adalah salah satu wujud betapa sifat egois masih menguasai jiwa. Sikap individual dikedepankan. Rambu-rambu lalu lintas tak dihiraukan. Sungguh sikap yang tidak boleh dibudayakan. Ada hak pengguna jalan lain yang harus dihargai dan dijaga. Tidak hanya jalan arus lain yang dimakan, bahkan terkadang trotoar pun dilewati kendaraan bermotor juga. Bila mau tertib berlalu lintas, tentu semua pengguna jalan akan merasa nyaman. Mengapa budaya tertib berlalu lintas masih rendah ya?

Terburu-buru selalu menjadi alibi pembenaran yang tidak benar. Coba kita ajukan perjalanan sekitar lima menit saja, tentu situasinya akan berbeda. Tidak perlu berpacu dengan waktu dan makan jalan. Ah, andai pengguna jalan bisa begitu ya , gumam Yu Jum dalam hati. Sejak itu Yu Jum bertekad untuk berangkat lima menit lebih awal dari biasanya. Berbuat tidak usah menunggu orang lain, mulai dari diri sendiri tentu akan lebih bijak. Tertib berlalu lintas yuuuk.

Banguntapan,10042019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Tidak ada salahnya jika kita berangkat lebih awal. Sukses bunda Lupi.

10 Apr
Balas

Sepakat Pak Agus...salam sehat dan sukses... Barakallah ya

10 Apr

Yuuuk..., berangkat lebih awal. Agar tak tergesa-gesa di jalan. Napas pun tidak tersengal-sengal. Hati tenang, dada lapang. Mantraffff jiwaaa, Bu Guru. Jazakillah khoir sudah mengingatkan melalui tulisan apik ini. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru Lupi.

10 Apr
Balas

Sepakat Bunda...hati menjadi tenang dan tak kemrungsung. Terima kasih sudah singgah. Barakallah Bun

11 Apr

Setuju Bunda Lupi, mulai dari diri sendiri, sangat bijak, terlebih 5 menit lebih awal, mantaps. Sukses selalu dan barakallah fiik

10 Apr
Balas

Terima kasih Bunda Vivi...lima menit lebih awal, dan rasakan perbedaannya.. Semangat pagi Bind. Barakallah

10 Apr

Ternyata dimana2 sama saja ya ...Terkadang gemes lihat pengemudi yang tidak taat peraturan lalu lintas..Kesadaran dari diri sendiri perlu ditingkatkan...Sukses terus ya...Barakallah Dik..

10 Apr
Balas

Iya Kak...duuh rasanya ya Kak..gemeeees banget, udah gitu ga pakai helm. Semoga kita bisa lebih baik ya. Terima kasih dah mampir..barakallah ya Kak

10 Apr

Pada kondisi tertentu sangat senang bila selalu di awal. He...he.

10 Apr
Balas

Iya Pak...lebih fresh...terima kasih dah singgah

10 Apr

Pada kondisi tertentu sangat senang bila selalu di awal. He...he.

10 Apr
Balas

Bahkan sekarang jalur kiri yg biasanya utk motor pun dipakai oleh mobil. Kasihan si pengguna motor ... Itulah Indonesia...

10 Apr
Balas

Padahal jalannya punya Mbah kita juga ya...begitulah Bu..kesadaran berlalu lintas masyarakat kita. Barakallah ya

11 Apr

Berangkat lebih awal berangkat lebih baik ...jalanan siang begitu padat.....sukses dik Upik...

10 Apr
Balas

Betuuul Mbak...semoga bisa lebih awal...sehat selalu ya Mbak...

11 Apr

Disiplin waktu itu wajib dimulai dari diri sendiri. Betul sekali bu

10 Apr
Balas

Sepakat Bunda...mulai dari diri sendiri mulai dr sekarang.. Barakallah

11 Apr

Banyak keuntungan berangkat lebih awal Bunda, udara lebih bersih, karena kaya oksigen, jalanan belum macet, tidak mendengar klaskson telolet yang memekakkan telingga, tulisan yang bagus

10 Apr
Balas

Benar Bapak...udara lebih segar dan terhindar dari kebisingan. Terima kasih sudah singgah

11 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali