Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Pahlawan Devisa
Mytri

Pahlawan Devisa

Aku belum begitu mengenal Jakarta. Konon jalanan sangat padat dan lalu lintas sering macet. Karena itu meski penerbangan jam 16.00, aku putuskan untuk berangkat lebih awal. Terlebih hari itu Jumat. Takutnya kena macet, telat dan tiket hangus. Lebih baik istirahat sambil leyeh-leyeh di bandara. Syukurlah teman seperjalanan yang beda kabupaten denganku pun berpikiran sama. Kami pun segera berkemas meskipun jadwal chek out masih lama.

Setelah memesan kendaraan kami segera turun ke lobby. Tak berapa lama kendaraan pun datang. Ternyata drivernya orang Tegal. Lumayan bisa ngobrol pakai bahasa lokal dan ramah juga, sehingga perjalanan ke bandara terasa enak dan nyaman. Perjalanan kurang lebih satu jam. Benar saja , lalu lintas tampak ramai. Beberapa titik bahkan agak macet. Dalam hati aku sangat bersyukur, tidak tinggal di Jakarta, walaupun kini Jogja sudah padat dan sering macet.

Akhirnya lega juga, masih ada sisa waktu sekitar tiga jam. Kami segera mencari gate yang ditunjukkan petugas. Begitu sampai gate yang dimaksud, kami segera mencari tempat yang nyaman. Duduk santai sambil melihat pesawat-pesawat yang bersiap.

Tiba-tiba kami dikejutkan rombongan beberapa wanita, sekitar sepuluh orang. Ramai sekali di dekat kami. Yang menarik perhatian, bahasa yang mereka gunakan "jawa" tapi logatnya tidak sama denganku. Aku jadi penasaran. Niat tiduran agak terusik juga.

"Bu, boleh tethering hapenya. Saya mo ngabari suami , eh jebul pulsanya habis," tanyanya pada kami.

Aku kaget juga, orang tak dikenal koq berani-beraninya minta tethering. Akhirnya sama temanku diberi juga. Lucunya lagi, begitu nyambung, dia langsung video call dengan suaminya.

"Mas, aku dah sampai Jakarta, nanti terbang lagi jam 16. Jo lali jemput yo. Dah ini pinjam hape Ibunya. Sampai ketemu nanti,'

Begitu obrolan yang kudengar. Eh aku tidak nguping lho, tapi bagaimana tak dengar, wong ngomongnya kenceng, dan duduk di dekatku. Setelah selesai vicall kucoba untuk bertanya.

" Mau ke mana Mbak?"

" Mau pulang Bu, mudik," jawab salah satu dari mereka.

"Dari mana? Rombongan ya?" tanyaku penasaran.

"Iya Bu, Kami dari Hongkong," jawabnya.

Gedubrak... Hongkong? Apakah mereka bekerja di sana? Ah kalau plesir koq kayaknya tidak. Berarti mereka pahlawan devisa dong. Seperti tahu penasaranku, mereka pun menjelaskan kalau bekerja di sana.

"Saya terpaksa jadi TKW Bu. Lulus SMP menikah, di usia 16 tahun saya sudah punya anak. Sementara suami juga tak punya pekerjaan. Saya juga tak bisa apa-apa, mau gimana lagi," tuturnya dengan lirih.

"Sekarang saya sudah punya rumah sendiri. Besok dah ngga mau balik lagi ke Hongkong. Mau kerja di kampung saja. Syukur-syukur nanti kalau suami bisa menafkahi Bu," lanjutnya.

"Aamiin. Semoga terkabul ya Mbak, tetap bersemangat," jawabku.

Dia hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, ada yang terasa begitu perih di hatiku. Tak sanggup rasanya membayangkan mereka. Di usia yang masih begitu muda, berjuang di negeri orang demi keluarga. Malu rasanya diri ini.

Terkadang masih mengeluh, tidak bersyukur dengan keadaan. Sementara masih begitu banyak para wanita yang begitu gigih berjuang, demi harapan dan impian mereka. Ketidakberuntungan menjadikan mereka sosok-sosok yang tangguh dan perkasa. Tak terasa tiba-tiba mataku sudah basah. Bergegas kulap dengan ujung jilbabku.

Mereka bercerita panjang lebar tanpa sungkan, seolah kami sudah saling mengenal. Bagiku cerita mereka menjadi pelajaran yang luar biasa. Kalau selama ini hanya bisa melihat kisah para pahlawan devisa lewat sinetron "Dunia Terbalik" kini bisa mendengar secara langsung kisah mereka dari pelaku utamanya.

Panggilan untuk masuk ke pesawat sudah terdengar. Kami pun berpisah. Tak lupa kutitipkan salam untuk keluarganya. Kujabat erat tangannya. Semangat duhai para pahlawan devisa. Kalian luar biasa. Terima kasih untuk kisahmu hari ini.

#belajardaritkw#parawanitaperkasa#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sang penulis dapat sumber tak terduga. Selamat liburan....

31 May
Balas

Xixixizi...betuul.. terima kasih. Salam sehat dan sukses. Barakallah

31 May

terbang bersama...walau tiket melangit. Ok bun.

31 May
Balas

Hehehe..mumpung tiket dibelikan Pak..rizki bulan puasa. Makasih Pak.. Barakallah

31 May

Ah...pahlawan devisa yang membuat kita malu jika tak bersyukur atas begitu banyak nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Jazakillah khoir untuk tulisan yang sudah mengingatkan ini. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Lupi.

31 May
Balas

Benar Bund..keadaan dan tentunya masih banyak faktor lain yang memengaruhi mereka, mengapa harus kerja di sana. Terima kasih Bund apresiasinya. Salam sehat dan sukses. Barakallah

31 May

Kisah TKW selalu saja penuh haru bahkan ada yang berakhir pilu...Betul sekali bahwa kita harus bersyukur masih bisa menikmati udara Indonesia yang damai...Cerita renyah menjelang sahur Dik Upik..he..he ..Barakallah...

31 May
Balas

Iya Kak...kegigihan dan kebetanian dengan segala resikonya. Semoga kita jadi hamba yang bersyukur ya Kak.. Terima kasih dah singgah. Barakallah

31 May

Di Negeri sendiri pemerintah belum pampu menyediakan lapangan kerja yang mencukupi. walaupun kekayaan alamnya melimpah ruah. Barakallah Ibu Marlupi sehat selalu

31 May
Balas

Iya Abah, sehingga negeri orang menjadi trmpat berusaha. Terima kasih sudah singgah. Salam sehat dan sukses. barakallah

31 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali