Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Pecel Mak Atun
The best

Pecel Mak Atun

Mak Atun masih tampak uring-uringan. Dompet belanjanya terjatuh entah di mana. Isinya mungkin tak seberapa bagi orang lain, tetapi bagi Mak Atun itu sangatlah berharga. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya merasa begitu kehilangan. Dia masih tengok kanan kiri mencari dompet lusuh miliknya itu.

"Tadi terakhir beli apa Mak?" tanya Ujang anak Mak Atun

"Terakhir beli krupuk Jang. Mak masih ingat, tadi pas mbayar masih di sini koq," jawab Mak Atun

"Ya sudahlah Mak. Mau gimana lagi," jawab Ujang sambil mengajak maknya pulang.

Akhirnya meski masih jengkel, Mak Atun pulang bersama anaknya. Sesampai di rumah Mak Atun merasa bersalah. Uang tak seberapa yang diberikan Kang Paijo untuk keperluan belanja hari ini hilang, dan hanya pulang membawa kerupuk.

" Dompetku hilang Kang, belum sempat belanja, baru dapat kerupuk ini," katanya pada Kang Paijo.

"Ya sudahlah Mak. Belum rezeki makan enak hari ini," jawab suaminya.

"Maaf ya Kang. Aku yang teledor," jawab Mak Atun lirih.

"Sudahlah, mungkin kita juga kurang sedekah Mak. Bersyukur Allah masih mengingatkan kita,"

"Tapi Kang, orang miskin seperti kita apa ya harus memberi sedekah pada orang lain? Buat kebutuhan sendiri saja kurang,'" jawab Mak Atun.

"Ingat Tun, sedekah itu lakukan di waktu lapang maupun sempit. Jangan hanya waktu kecukupan saja. Jangan pernah merasa semakin miskin atau uang kamu akan berkurang dengan memberi sedikit apa yang kita miliki untuk orang yang lebih membutuhkan. Allah menjamin seluruh makhluknya Tun. Kita tinggal mengupayakan.Sudah dompet hilang tak usah diratapi. Nanti Kakang kerja lagi, mudah-mudahan dapat gantinya," tambah Kang Paijo.

"Ya Kang. Maaf hari ini makan pakai pecel saja ya," jawab Mak Atun.

"Iya tak apa-apa. Pakai pecel kalau yang bikin dirimu pasti enak dan mantap. Pecel Mak Atun memang joss," jawab Kang Paijo sambil tertawa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ya, sedekah justru dianjurkan saat dalam keadaan sempit.

27 Jun
Balas

Benar Bun...ketika dalam kesempitan , tapi masih bisa membantu orang lain sungguh luar biasa. Terima kasih sudah singgah.. Barakallah Bund..

28 Jun

Atun oh Atun...moga jadi santun.yes

27 Jun
Balas

Njih Pak..matur nuwun. Barakallah Pak

28 Jun

Cerita yang sarat hikmah dan pembelajaran. Tulisan yang keren dan bermakna. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah

27 Jun
Balas

Terima kasih Pak Mulya..salam sehat dan sukses. Batakallah Pak

28 Jun

Subhanallah, adem rasa melihat kisah keluarga Mak Atun yang sabar dan penuh kasih sayang. Sukses selalu dan barakallahu fiik

27 Jun
Balas

Semoga dalam keluarga memang sehatusnya saling melengkapi kekutangan masing-masing. Salam sehat dan sukses Bunda Vivi.. Narakallah

28 Jun

Kesabaran Mak Atun akan berbuah manis...Insyaallah...Cerpen inspirasi yang luar biasa...Barakallah adik cantik...

27 Jun
Balas

Aamiin...terima kasih Kakakku yg cantik. Salam sehat dan sukses. Barakallah ya

28 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali