Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Ratri 4 ( Pagi yang Hilang )
Cyber dakwah

Ratri 4 ( Pagi yang Hilang )

Pagi itu Ratri mencoba untuk tetap seperti biasanya. Bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarganya, meski hati begitu perih. Dia tak ingin anak-anaknya sampai tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Membayangkan apa yang akan terjadi bila sampai ada wanita lain yang harus mereka panggil bunda selain dia. Ratri pun tak sanggup untuk membayangkan yang lebih menyakitkan bila dia dan suami harus berpisah. Perasaan anak-anak harus benar-benar dijaga, terlebih kini anak pertama mereka Sekar sudah kelas sembilan, sebentar lagi akan ujian.

“Pagi Bunda, apa nih menu sarapan pagi kita?” tanya Gilang yang sudah siap sekolah dengan seragamnya.

“Kesukaan Adik tuh, nasi goreng telur ceplok, mana Mbak Sekar?” jawab Ratri sambil mengabsen anak sulungnya.

“Mbak Sekar masih make up Bund, ribet ,”

“Enak aja ! Mbak lagi ngecek buku PR, takutnya ketinggalan,” jawab Sekar

“Ya sudah, jangan sampai ada yang ketinggalan, segera sarapan dulu biar ngga telat,”

“Ayah mana Bund, koq belum siap?” tanya Sekar

“Coba kamu panggil Mbak, bilang sarapan sudah siap!” Ratri menyuruh Sekar memanggil suaminya.

Tarjo sudah siap dari tadi, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah, rasanya tak sanggup melihat istrinya yang begitu bersedih. Pasti Ratri begitu terluka dengan permintaanya.

“Ayah, cepet sini, ntar aku habisin lho,” Tiba-toba Gilang mengagetkannya.

“O ya, jangan dong Dik, ayah kan juga mau makan nasgor masakan Bunda,” Tarjo segera duduk di samping jagoan kecilnya.

“Ayah sama Bunda marahan ya?” tanya Galang mengagetkan kedua orang tuanya yang tampak kikuk.

“Tidaak, “ tanpa dikomando Ratri dan Tarjo menjawab bersamaan.

“ Cieee...kompak bener,” ledek Sekar

Ratri beranjak ke dapur. Dia tak ingin bendungan itu ambrol di depan anak-anaknya. Sesampai di dapur, dihelanya napas panjang, ditenangkan hatinya, diseka sudut matanya. Setelah itu bergegas dia kembali agar anak-anak tak curiga.

“Lho, Bunda ambil apa? Koq ngga bawa apa-apa?” tanya Sekar

“Bunda cuma minum koq Mbak,” kilah Ratri.

Duuh..jangan sampai anak-anak curiga. Ratri mencoba untuk bersikap biasa saja. Tarjo hanya diam. Dia mengerti kalau Ratri berusaha untuk biasa saja. Waktu sarapan menjadi terasa begitu lamban. Jarum jam seolah tak bergerak. Sarapan pagi yang sering mereka jadikan momen untuk berbagi mimpi, bercerita tentang indahnya hari, tentang harapan di hari ini seakan menjadi begitu sunyi. Pagi yang hilang. Bagai orang yang sedang sakit gigi Tarjo hanya diam dan membisu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah istrinya itu. Hatinya juga begitu tersiksa melihat Ratri berduka. Sungguh jauh di dasar hati, tak ingin sedikit pun menyakiti wanita yang telah memberinya dua anak itu.

“Ayo anak-anak, segera rapikan baju dan tas kalian, kita segera berangkat, takut macet jalannya!’

“Iya Yah, kami dah siap koq, kami pergi ya Bund, Assalamu’alaikum ..., “ jawab Sekar sambil meraih tas dan bergegas menyalami Bundanya, diikuti Gilang.

“Iya Mbak, Dik, belajar yang bener ya. Wa’alaikumsalam ...,” jawab Ratri sambil mengecup kedua kening anak-anaknya.

“Aku berangkat Bund,” Tarjo mengulurkan tangannya dengan lirih

Tanpa menjawab Ratri menerima uluran tangan dengan hati yang begitu perih bagai tertusuk belati. Demi anak-anak , aku harus bisa menahan semua. Tarjo yang paham situasi segera mengajak anak-anaknya masuk ke mobil. Setelah suami dan anak-anaknya berangkat, bendungan itu akhirnya ambrol juga. Air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah tanpa bisa dicegah. Akankah semua yang begitu indah harus berakhir begitu saja? Tiba-tiba dering gawai mengagetkannya. Dicari-carinya sumber bunyi itu. Ternyata ada di bawah kursi. Gawai Tarjo tertinggal, mungkin karena tadi tergesa hingga tak menyadari kalau terjatuh. Dipegangnya gawai itu, pikirannya bingung antara buka dan tidak.

Selama ini Ratri begitu mempercayai suaminya, sehingga dia tak pernah membuka gawai suaminya. Seakan ini menjadi petunjuk bagi Ratri untuk mecari pemecahan masalahnya. Lewat barang ini aku pasti akan tahu siapa sebenarnya wanita yang telah mencuri hati suaminya. Setelah sejenak berpikir, akhinya Ratri mengalihkan gawai suaminya ke mode pesawat. Dengan tangan gemetar dibuka benda kecil itu. Jantungnya terasa berdegup sangat kencang. Sebuah nama tertera di percakapan paling atas. Foto profilnya seorang wanita yang kira-kira seusia dengannya. Sangat cantik, senyumnya pun begitu menawan hati. Kelihatan dari perempuan yang berkelas dengan selera yang tinggi. Ratri merasa begitu lemas. Dia segera terduduk di kursi. Dian nama yang tertera di situ. Siapakah dia? Inikah wanita yang ingin menjadi madunya? Ratri membuka isi pesan Dian dengan hati yang tak karuan.

“Siang ini maksi di tempat biasa ya Mas, aku tunggu. Miss u,”

Tubuh Ratri bergetar. Sejenak dia tak bisa menguasai dirinya. Aku harus kuat, aku harus kuat. Aku harus tahu mengapa Mas Tarjo sampai berani mengambil langkah sebesar ini. Aku tak boleh lemah. Ratri segera bersiap untuk datang ke lokasi yang sudah dibagi oleh Dian. Dihapusnya air mata yang masih tersisa. Bergegas dia bangkit dan beranjak.

Siapa sebenarnya Dian? Tunggu kelanjutannya ya...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

solusi hrs terpecahkan,ratri hrs tegar harus kuat mental mendatangi tempat yg dijanjikan dian untuk menyelesaikan mslh rumah tangganya

11 Feb
Balas

Iya Bunda Eni, masalah harus diselesaikan, tak bpleh berlarut-larut. Kasihan anak-anak. Makasih dah singgah Bund...Barakallah

11 Feb

Semangat pagi selesai upacara bendera sambil membaca ceritanya mbak Marlupi. Ditunggu cerita ketemuan dg Dian, mbak

11 Feb
Balas

Siaap Bunda, terima kasih berkenan singgah. Sehat selalu..barakallah

11 Feb

Sambil melatih kesabaran, Bu Guru. Ditunggu kelanjutannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru.

11 Feb
Balas

Hehe..benar Bunda... Sehat selalu ya....terima kasih disempatkan singgah. Barakallah

11 Feb

Nyesek banget nih dada ini, hadeuh,,,, ketika muncul orang ketiga selalu buat aku gregetan nih.... Ditunggu lanjutannya. Sukses selalu dan barakallah

11 Feb
Balas

Maaf Bubd, bukannya Ratri 3 sudah ada yah, mungkinkah ini Ratri 4. Maaf

11 Feb

Xixixii..terima kasih Bunda Vivi yang jrli, tadi langsung unggah ga cek artikel.Bunda Vivi memang super jeli nih..sehat selalu ya Bund...barakallah

11 Feb

Wah..tambah seru nih ceritanya.. Rasanya ikut nyesek nih... Lanjuuut... Barakallah Bunda Upik....

11 Feb
Balas

Jangan nyesek Bund...hehee..makasih sudah singgah..sehat selalu.. Barakallah

11 Feb

Abah nasehatkan sama tarjo, jangan dilanjutkan perbuatan konyol itu. Ingat anak-anak ya jo...kalau tarjo melahat perempuan, yg mena'jubkanmu cepat pulang kerumah sama itu dengan istrimu. Barikillah Ibu Marlupi

11 Feb
Balas

Hehehe...coba kalau Tarjo ndengerin Abah ya..paati Ratri tak akan berduka. Terima kasih sudah singgah, sehat selalu Pak...barakallah

11 Feb

Siapakah Dian ?apakah temanku yang guru bhs Inggris itu ?hehe... Semangat Ratri...

11 Feb
Balas

Jangan-jangan iya Bu Id...tunggu kelanjutannya siapa Dian sebenarnya

11 Feb

Baca MDS pending, baca Ratri pun pending. Oh....semua membuat penasaran saja .

12 Feb
Balas

Hehehe...bikin cerpen sendiri Jeng..biar ga penasaran...makasih yaa dah mampir...barakallah

13 Feb

SDH lama ditunggu muncul Ratri....mantap dan buat penasaran dik...ingin tau kelanjutannya...

11 Feb
Balas

Hehe..iya Mbak, tunggu krlanjutannya ya...sehat selalu..barakallah

11 Feb

Siip.... positif thinking saja, ...berakhir bahagia .. terimakasih mbak Upik...sarapan pagi yang menginspirasi

11 Feb
Balas

Semoga ya Mbak...tapi apa mau Ratri dimadu? Terima kasih berkenan mampir, semangat hari Senin..sehat n sukses selalu. Barakallah

11 Feb

Situ lah .. terserah bunda Lupi aja. Aku gak berani nyuruh Tarjo meninggalkan Dian.. mungkin Tarjo punya alasan...aahhh bunda....sebellllll Hik...hill... Pedih bunda... serasa aku jadi Ratri Sukses selalu bunda

11 Feb
Balas

Hehehe....jadi pilih mana Dian apa Ratri? Kalo Tarjo sih mau dua-duanya...makasih Bunda Yanisa..sehat selalu...Barakallah

11 Feb

Mantap jeng....bikin tambah penasaran...

11 Feb
Balas

Terima kasih Mbak Wind..semangat pagi, sehat dan sukses..barakallah

11 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali