Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Ratri 7 ( Ingin Kumiliki )
islamkafah.com

Ratri 7 ( Ingin Kumiliki )

Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Angin silir lembut menyapa wajah Ratri yang menerawang jauh entah ke mana. Sapaan bunga-bunga yang kurang terawat di samping rumah tak dihiraukannya. Akhir-akhir ini Ratri memang sibuk menata hati, hingga kebiasaannya merawat setiap bunga yang ditanamnya hampir tak dilakukan. Sayup suara diva Indonesia papan atas Ruth Sahanaya , mengusik kebisuan Ratri.

Ingin ku miliki

Dengan sepenuh hati

Walau ku harus setengah terluka

Mengharap cintamu

Ingin ku sayangi

Tanpa terbagi lagi

Apakah mungkin

Menjalin kasih

Bila aku tak tahu

Bagaimana kau mencintai diriku

Hatinya pun hanyut terbawa alunan lagu yang begitu sendu. Seakan menggambarkan keresahan dan kegundahan. Ingin sebenarnya berlari dan tak terjebak dalam rasa, namun semakin dia berusaaha untuk lari, rasa itu semakin memasungnya begitu erat. Sangat kuat, hingga bernapas pun terasa berat. Suaminya yang begitu dicintai, telah merenggut kepercayaannya dengan paksa, hingga tiangnya seakan roboh begitu saja. Bekasnya pun meninggalkan luka yang entah sampai kapan akan menyiksa. Ditarik napasnya dalam-dalam. Mengembalikan kepercayaan ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Bayang-bayang Dian seakan terus mengikuti dan menggoda dalam setiap detak jantungnya. Ratri benar-benar tak mengerti. Cerita setahun yang lalu akan berbuah seperti sekarang ini. Dia masih ingat ketika suaminya meminta izin untuk mengikuti acara reuni SMA di Batu Malang waktu itu.

“Dik, bolehkah aku ikut reuni SMA?” pinta Tarjo

“Boleh,asal jangan CLBK lho,” jawab Ratri.

“CLBK? Tidak lah. Cukup bagiku dirimu dan anak-anak kita. Tak ada lagi yang lainnya. Atau kalau kau tak percaya, ikut yuk,” ajak Tarjo.

“Eh..siapa tahu. Empat puluh tahun ke atas itu puber kedua lho Mas, harus hati-hati! Ntar kalau aku ikut anak-anak sama siapa Mas? Sudahlah, aku percaya sama suamiku. Lagian kalau aku ikut, ntar aku jadi obat nyamuk, ga bakalan nyambung dengan yang diomongkan. Tak usah aja Mas,”

“Bener nih, ga takut suaminya diambil orang?” goda Tarjo.

“Siapa coba yang bisa ngambil orang segedhe ini,” jawab Ratri sambil tertawa.

“Makasih ya Sayang, dah percaya padaku. Yakin aku tak bakal macam-macam. Cukuplah kalian yang memenuhi rongga hatiku. Tak akan ada tempat untuk yang lainnya.” Tarjo memeluk dan meyakinkan Ratri waktu itu.

Hari yang dinanti pun tiba. Akhir pekan kali ini Tarjo menghabiskan bersama teman-teman SMAnya. Ratri pun tak pernah menaruh curiga sedikit pun. Tarjo yang pinter ataukah Ratri yang bodoh. Entahlah. Kepercayaan Ratri pada Tarjo memang begitu besar. Betapa tidak, sampai-sampai ponsel Tarjo pun Ratri tak berani untuk membuka. Apalagi Tarjo tetap bertingkah seperti biasanya. Rapi dan wangi, bukanlah hal yang patut dicurigai, karena suaminya memang selalu berpenampilan perfect. Seakan tak ada alasan sedikit pun untuk curiga. Bahkan sepulang reuni Tarjo menunjukkan foto-foto kebersamaannya dengan teman-teman. Tak ada tanda-tanda aneh.

Ada satu dua temannya yang sering mampir ke rumah. Itu pun pembicaraan mereka wajar dan biasa saja. Sampai ketika kejujuran Tarjo terucap. Ratri benar-benar bagaikan jatuh terhempas. Begitu menyakitkan. Dian sang mantan yang masih sendiri, berharap bisa menjadi yang kedua dalam rumah tangga mereka. Bulir bening yang sempat mengering itu kembali mengalir di pipi. Berjuta tanya mengapa dan mengapa?

Tarjo sudah meyakinkannya untuk membatalkan semua rencana, namun mengapa tak mudah bagi Ratri untuk kembali percaya. Terlebih pertemuannya dengan Dian kemarin, seakan menyudutkan posisinya. Ratri seakan menjadi pemisah di antara mereka. Ratri menjadi merasa semakin bersalah. Andai aku tak hadir di antara mereka. Mengapa juga mereka menyetujui perjodohan orang tua. Apa orang tuaku juga bersalah? Mengapa aku jadi meyalahkan jalan-Nya? Astaghfirullah...tak sepantasnya aku berandai-andai atau menyalahkan pernikahan yang sudah terjadi. Bukankan sehelai daun kering yang jatuh pun sudah atas izin-Nya? Mengapa kini aku jadi meragukan. Ya Allah ampuni hamba...

Suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah mengagetkan lamunan Ratri.

‘Assalamu’alaikum...”

Suara yang teramat dikenalnya. Bergegas Ratri beranjak.

“Wa’alaikumussalam Ibu...” Ratri mengambil payung dan bergegas membukakan pagar depan menyambut kedatangan ibunya.

“Ibu, mengapa tidak mengabari dulu? Kan bisa kujemput tadi. Mana hujan-hujan begini,” tanya Ratri sambil membawakan barang bawaan Ibu.

“Tak apa-apa Ndhuk, sekarang dah enak. Tak ada yang jemput tak apa, sudah ada gojek. Murah dan aman sampai tujuan,” jawab Ibu

“Syukurlah Bu, tapi lain kali kabari dulu, kami kan bisa njemput Ibu. Tak usah repot-repot begini,”

“Iya, Ibu buru-buru. Terus bapakmu juga nyuruh segera ke sini. Ya...akhirnya Ibu ke sini,” jawab Ibu

“Anak-anak sama suamimu sehat to Ndhuk?” tanya Ibu

“Alhamdulillah , sehat Ibu. Sebentar saya buatkan teh panas ya Bu, biar tidak pusing,” jawab Ratri sambil beranjak ke dapur.

“Iya, tak usah pakai gula ya Ndhuk!” pinta Ibu

“Ya Bu, Ratri tahu koq,”

Ratri memberikan segelas teh panas kepada ibunya. Sudah tradisi di keluarga Ratri setiap habis bepergian jauh, minum teh panas agar badan kembali segar dan tidak masuk angin. Perjalanan bus satu jam membuat ibu Ratri merasa lelah, terlebih di usia yang sudah dibilang senja.

“Sebenarnya ada apa Bu? Apakah ada hal yang sangat penting, hingga Ibu tidak telepon dulu?” tanya Ratri sambil membuka oleh-oleh. Ada gethuk kesukaannya. Langsung dibuka dan dilahapnya. Ibu memang piawai membuat gethuk.

Ibu tampak menarik napas panjang. Ditatapnya anak kesayangannya itu. Ratri yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah.

“Beberapa hari ini pikiran Ibu tak enak, selalu teringat kamu, Ndhuk. Bapakmu malah berkali-kali mimpi buruk. Akhirnya daripada kepikiran, Bapakmu menyuruh Ibu ke sini, memastikan keadaan kalian,”

“Ah Ibu, mimpi saja koq dipikir. Kenyataanya Ratri baik-baik saja Bu. Anak-anak juga. Mas Tarjo juga. Semua sehat. Mimpi bunganya orang tidur kan Bu?” jawab Ratri meyakinkan Ibunya.

“Syukurlah Ndhuk. Itulah yang kami harapkan. Ibu sudah lega, nanti segera telepon Bapakmu ya. Ibu sudah sampai dan semua sehat,” jawab Ibu tersenyum lega.

“Iya Bu, nanti saya telepon Bapak. Tapi Ibu tidak boleh buru-buru pulang ya, harus nginep di sini beberapa malam. Sekar dan Galang pasti senang lihat Utinya datang. Sekarang Ibu istirahat dulu ya, saya mau masak dulu untuk makan siang,”

Ratri segera ke dapur. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana Ibu dan Bapak tahu kalau aku sedang dalam masalah. Bagaimana kalau mereka sampai tahu kejadian sebenarnya. Semua pasti sedih dan shock. Tidak! Aku tidak boleh bercerita apa sebenarnya yang terjadi antara aku dan Mas Tarjo kepada siapa pun. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Rumah tangga ini harus tetap utuh. Aku harus berjuang untuk bertahan, meskipun begitu terluka. Aku harus memaafkan suamiku dan mulai memercayainya kembali meski butuh waktu lama.

Mampukah Ratri mempertahankan keutuhan rumah tangganya? Nantikan jawabannya di Ratri 8.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

CLBK, Cinta Lama Belum Kelar...kata orang ya Bu. Padahal yang paling jauh dari kita adalah masa lalu. Yang harus kita songsong adalah masa depan. Sekarang, masa lalu bercampur dengan masa depan...duuuh. Ada tempat mengadu, Ratri. Mengadulah pada-Nya. Ditunggu...Bu Guru. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

25 Apr
Balas

Rasanya jadi campur aduk ya Bund, akhirnya menjadi sedu sedan. Terima kasih sudah singah Bund. Salam sehat dan sukses.. Barakallah Bun

25 Apr

Semoga Ratri mampu mempertahankan keutuhan keluarga, namun gak pake sakit. Sukses selalu dan barakallahu fiik

24 Apr
Balas

Terima kasih Bunda Vivi atas apresiasi dan kunjungannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah

24 Apr

Sulit mengembalikan kepercayaan karena permintaan itu sudah terucap..Bahkan menghapusnya pun sulit..Ratri membutuhkan energi yang cukup besar...Hhhh...Rasanya ikut sesak juga dada ini...Ditunggu kisah selanjutnya...Semoga berakhir bahagia...Salam sehat dan sukses selalu..Barakallah Dik Upik..

24 Apr
Balas

Terima kasih apresiasinya Kak...kira-kira endingnya gimana hayo...hehehe...salam sehat dan sukses..Barakallah

24 Apr

Reuni oh reuni

24 Apr
Balas

hehehe...begitulah Bund. terkadang mengasyikkan bertemu teman lama selama tidak terjebak dalam rasa. Salam sehat dan sukses Bund...barakallah

25 Apr

Reuni bisa membawa luka di hati bagi Ratri. Sudah pernah Abah nasehati. Apa yang ada pada Dian pasti ada pada Ratri. Tapi kamu sih nggak percaya. Beginalah jadinya. Barakallah Ibu Marlupi

24 Apr
Balas

Hehehe...iya Abah.kebawa reuni dia. Terima kasih sudah berkenan singgah. Salam sehat selalu. Barakallah..

24 Apr

Ratri...oh Ratri...sabar ya Nduk

25 Apr
Balas

Iya Bund Say...xixixixi..

25 Apr

Owh Ratri....semoga happy ending dg mas tarjo

24 Apr
Balas

Xixixixi....semoga ya Mbak Ifa..

24 Apr

Keren ... menghanyutkan....

24 Apr
Balas

Tengkiuuu Mbak Titik..asal jangan terhanyut ya...salam sehat dan sukses.

24 Apr

Semoga Ratri diberikan kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Aaamiiin. Keren Bu Upi... lanjutkan...

24 Apr
Balas

Semoga Bunda...Terima kasih ya apresiasinya. Salam sehat dan sukses...

24 Apr

mantab. tulisan yang mengaduk emosi. lanjutkan!

24 Apr
Balas

Terima kasih supportnya Pak...barakallah

24 Apr

tulisannya mantap mbak, saya suka....

24 Apr
Balas

Terima kasih apresiasinya. Salam sehat dan sukses selalu ya...

24 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali