Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Ratri 8
islamkafah.com

Ratri 8

Diceritakan pada episode sebelumnya ibunda Ratri yang akrab dipanggil Uti berkunjung ke rumah, karena ada perasaan yang mengganjal tentang rumah tangga putrinya itu. Sementara Ratri masih berada dalam kebimbangan.

Pagi itu suasana meja makan rumah Ratri tampak berbeda. Kehadiran Uti benar-benar membuat suasana ramai dan ceria. Tidak heran, karena memang Uti dekat dengan anak-anak. Sementara Tarjo sendiri sangat segan dengan ibu mertuanya itu. Meski kikuk Ratri dan Tarjo tampak kompak menyembunyikan permasalahan dalam rumah tangganya.

“Uti belum boleh pulang ya, nanti harus nginep sini lagi,” kata Galang sambil mengambil nasi ke piringnya.

“Iya Uti, Sekar juga masih kangen. Seneng ada Uti, diceritain masa kecil Bunda, lucu dan seru,” tambah Sekar

“Terus kalau Uti di sini terus Kakung sama siapa? Apa kalian tidak kasihan sama Kakung? Nanti siang Uti mau pulang. Gantian kalian kalau libur ke rumah Uti ya?” jawab Uti dengan bijak.

“Yaaa Uti gitu,’ jawab Galang cemberut.

“Besok Sabtu kan sudah libur Mbak, Dik, Kita bisa pergi ke rumah Uti dan Kakung,” kata Ratri menengahi kedua anaknya.

“Tapi Ayah kan tidak libur Bun? Nanti ngga jadi lagi,” Sekar tampak bersungut.

“Kan bisa sama Bunda. Sekarang sarapan dulu, itu Ayah sudah selesai lho. Segera berangkat sekolah. Belajar yang rajin ya. Cucu – cucu Uti hebat dan pinter. Maaf Uti harus pulang. Nih Uti tambah uang sakunya,” jawab Uti sambil memberi lembaran uang saku untuk Sekar dan Galang.

“Asyiiik...Makasih ya Uti. Besok liburan kami pasti ke kampung. Kangen juga sama Kakung,” jawab Sekar

“Ih, diberi uang saku langsung girang. Kalian nih. Ayo buruan Ayah sudah menunggu tuh,” Ratri mengingtakan sarapan anak-anaknya.

“Ashiaaaap Bund,” jawab Galang bersemangat.

“Saya berangkat dulu ya Bu, sama anak-anak,” pamit Tarjo pada mertuanya itu.

“Iya, hati-hati. Sekalian pamit, Ibu pulang hari ini,” jawab Uti

“Ya Bu, nanti saya izin sebentar biar bisa ngantar Ibu ke terminal,” jawab Tarjo.

“Tak perlu, Ibu bisa diantar Ratri, atau nanti bisa pesen gojek,

“Wah Uti emang gaul, dah ya Uti,” pamit Sekar dan Galang.

Dipeluknya Uti kesayangan mereka.

Rumah kembali sepi. Ratri bergegas membereskan meja makan sementara Uti duduk di ruang tengah sambil melihat teve. Begitu Ratri selesai, segera ditemaninya wanita kesayangannya itu sambil minum teh.

“Ratri...Serapat apapun kamu tutupi masalahmu, kamu tidak bisa mengelak dari Ibu. Begitu sampai di sini pun Ibu sudah merasa kalau kamu sedang dalam masalah. Tanaman di teras kamu seakan menceritakan semuanya. Acak-acakan tak terurus. Aura dalam rumah pun ada yang mengiris hati Ibu, meski kau coba untuk sembunyikan semua. Sudahlah Ndhuk, ceritakan. Aku ini ibumu, bukan orang yang lain yang mungkin kau ragukan omongannya. Sebelum Ibu pulang, semua sudah harus jelas,” kata Ibu dengan bijak.

Ratri tak sanggup menahan semuanya. Bendungan yang dijaga rapat-rapat akhirnya jebol juga. Menangis di pelukan orang yang telah melahirkan. Dia tumpahkan kepedihan dan kegelisahannya. Segera setelah agak tenang, dia menceritakan semua masalah dalam rumah tangganya. Sang Ibu terdiam mendengarkan, sesekali menarik napas panjang, sampai putrinya benar-benar telah selesai.

“Setiap rumah tangga mesti punya masalah. Semua yang mengarungi samudera pasti merasakan terjangan ombak. Terkadang begitu tenang, namun tak jarang ombak tinggi dan ganas. Tarjo sudah berusaha jujur kepadamu, dan keputusan ada padamu. Bila kau memang tak mengizinkan suamimu menikah lagi, maka kau pun harus berusaha mempertahankannya. Kebahagiaan itu diperjuangkan Ndhuk, tak datang sendiri. Kamu harus berusaha. Jangan kau bimbang dengan kehadiran Dian. Dia adalah masa lalu. Kita doakan dia segera menemukan jodohnya. Mungkin sekarang Tarjo baru khilaf, bermain hati, tapi lihatlah dia masih minta izin, bercerita padamu. Artinya dia tetap berusaha menjaga perasaanmu. Mantapkan hatimu. Berilah dia kesempatan sebelum semuanya terlambat. Tak ada manusia yang tak pernah salah. Maafkanlah Ndhuk . Jika memang Tarjo tak pantas untuk dipertahankan, ya biarlah waktu yang membuktikan. Ibu tahu ini sangat berat bagimu, tapi Ibu yakin anak ibu sanggup melewatinya,” kata Ibu

“Iya Ibu, saya sebenarnya bimbang, tapi setelah mendengar nasihat Ibu saya semakin mantap untuk mempertahankan rumah tangga ini Bu. Meskipun poligami tak dilarang, tetapi hati ini tak akan sanggup,” jawab Ratri.

“Baguslah Ndhuk., jangan menyerah . Demi anak-anak, kesampingkan perasaan sakit hatimu. Meski kepercayaan sedikit ternoda, kamu harus tetap yakin pada suamimu,”

“Bangkit dan sambutlah hari esok. Wanita itu harus memiliki hati seluas samudera, kalau memang pantas untuk dipertahankan buanglah keraguan. Pasrahkan semua kepada-Nya,jalani dengan ikhlas. Semua akan indah pada waktunya. Ibu pun tak ingin didera kesalahan karena menjodohkanmu dengan Tarjo. Semoga dia tetap suami dan ayah yang baik untuk anak-anakmu,” bisik Ibu sambil memeluk erat Ratri.

Masih ada hari esok, dan matahari pagi selalu menyapa membawa harapan baru untuk kebahagiaan manusia, selama dia mengupayakan. Ratri segera menghapus air mata yang masih tersisa. Hatinya mantap untuk memberi kesempatan kepada Tarjo.

Akankah perjalanan kisah rumah tangga Ratri kembali cerah dan bahagia seperti yang diimpikan? Nantikan kelanjutannya ya di episode 9 ya.....see u

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah ... Bagus banget.... Dampak re u ni

25 Jun
Balas

Iya Pak...sudah membaca dari Ratri 1 ? Terima kasih sudah singgah Pak.. Salam sehat dan sukses..

25 Jun

rona keluarga memang yes....ok bun

25 Jun
Balas

Yups..leres Pak Tanto. Barakallah

25 Jun

Mantap! Semakin seru saja. Sukses selalu, Bu Lupi.

25 Jun
Balas

Terima kasih Pak Edi, belum selembut dan seasyik cerpen Pak Edi. Salam sehat n sukses Pak.. Barakallah

25 Jun

Ashiiaaaap...saya tunggu Bun.

25 Jun
Balas

Oke Pak..otw Ratri 9

25 Jun

Salam sehat n sukses Pak Agus..barakallah

25 Jun

Mantap kali Bunda Lupi. Hati seluas samudra, ini yang harus dimiliki wanita, kereeeen. Asyiknya Ratri punya bunda yang bijak, kalimatnya bikin adem, kareba yang rsngkai Bunda Lupi, guru biologi rasa sastra, hehehe. Sukses selalu dan barakallahu fiik

25 Jun
Balas

Semoga Bund,para wanita berhati seluas samudera. Terima kasih Bunda Vivi.. Barakallah..

25 Jun

Semoga rumah tangga Ratri akan semakin membaik ..Sukses selalu ..Barakallah Dik...

25 Jun
Balas

Semoga ya Kak..terima kasih dah singgah.. Aalam sehat dan sukses. barakallah

25 Jun

mantab Bun.

25 Jun
Balas

Matur nuwun Pak Sabar... Barakallah

25 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali