Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti...

Selengkapnya
Sama Beratnya untuk Menerima

Sama Beratnya untuk Menerima

Menyatukan dua insan tentu tidaklah mudah, terlebih dengan berbagai perbedaan baik latar belakang maupun sifatnya. Begitu pula dengan pasangan baru suami istri. Berasal dari bukan muhrim, hingga akhirnya menjadi halal bagi keduanya. Perlu adaptasi dan saling menjaga satu dengan yang lainnya, semata-mata niat ibadah. Hal yang mendasar dalam membina sebuah hubungan adalah kesadaran untuk menerima pasangan. Menerima pasangan kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Orang biasanya berfikir menerima kelebihan itu enak, lebih enteng daripada menerima kekurangan. Padahal keduanya menurut saya sama berat. Menerima kekurangan itu hal yang biasa, karena tak ada manusia yang sempurna. Lagian kalau orang cinta kan semua tampak begitu sempurna, kekurangan sebesar apapun tak kelihatan . Mungkin benar cinta itu buta ( hehehehe … ). Setahun dua tahun kekurangan tak juga tampak, kalaupun kelihatan maka hati pun rela dan ikhlas atas dasar cinta. Tapi bagaimana dengan kelebihan?

Mula-mula kelebihan itu hal yang wajar dan bahkan menjadi kebanggaan bagi kita ketika memiliki pasangan yang banyak kelebihan. Sudah berparas elok, cerdas, mapan dan kelebihan-kelebihan yang lain. Tapi sadarkah Anda bahwa kelebihan pasangan bisa menjadikan gundah gulana? Bila kita tidak siap menerima kelebihan pasangan , maka akan menimbulkan keresahan yang berujung pada ketidaknyamanan dalam membina hubungan rumah tangga. Menerima kelebihan itu membutuhkan hati yang luas seluas samudera yang terhampar di bentangan bumi ini. Contoh misal memiliki pasangan dengan kelebihan cerdas dan supel dalam bergaul, bila kita tidak bisa menerima maka kita akan terbelit dalam perasaan was-was, berburuk sangka ketika ditinggalkan dan lain sebagainya. Makan hati kan? Tapi bila kita bisa menerima kelebihan dirinya yang begitu cerdas dan pandai bergaul, maka hati kita akan menjadi lapang dan berprasangka baik terhadapnya. Memiliki pasangan pejabat tentu juga suatu kelebihan yang harus diterima dengan lapang dada. Siap untuk ditinggalkan di mana saja dan kapan saja untuk bertugas.

Sesungguhnya semua kembali pada diri kita masing-masing untuk membangun sebuah komitmen bersama pasangan, saling menutupi kekurangan masing-masing, dan menerima kelebihannya dengan tetap positif thinking. Bukankah ibarat pakaian harus saling menutupi satu sama lain, sehingga yang tampak dari luar hanyalah kekompakan dan keindahan? Kekurangan pasangan kita biarlah menjadi rahasia kita dan bukan untuk konsumsi publik. Sudahkah Anda bisa menerima kelebihan pasangan meski hanya berat badan?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pengen komen tapi takut, tapi akhirnya ngomen juga karena takut jadi belum jalan

04 Dec
Balas

hadeeeh...emang aku serem po ya... koq sampe adikku yang satu ini takut....?mo jalan ke mana?

04 Dec

Konten tulisanmu iki loh mbak, bikin takut

04 Dec

Jangan takut say...teruslah melangkah, kelebihan dan kekurangan adalah anugerah yang diberikan agar saling melengkapi dengan pasangannya. Siapkan mental untuk bisa menerima...( duh aku koq jadi sok tuir ya... )

04 Dec

Dicopyakan Pra dan wanita itu sebuah perbedaan untuk disatukan. Salam Bun.

04 Dec
Balas

yuuups....dan perbedaan itu indah ya Pak...sugeng ndalu

04 Dec

Wowwww, sepaket yah bund, terima kelebihan juga kekurangannya. Sukses selalu dan barakallah

04 Dec
Balas

iyuuups Bunda Vivi...paket komflit....doa terbaik untuk Bunda, makasih dah mampir

04 Dec

Saya sudah menerima kelebihan berat badan pasangan Bunda cantiqqq.. ..So nikmati saja dengan indah dan penuh bunga ..he..he..

04 Dec
Balas

Bu dhe Rini bisa aja hi hi, ini bunda Upik gimana bu Rini? Maaf menyela tuan rumahnya he he

05 Dec

Tidak mengapa Bunda Dyahni.....saya malah senang, bisa ngobrolbersama...

05 Dec

@Bunda Rini....mudah-mudahan suami saya juga sudah menerima saya dengan berat badan yang semakin bertambah...hehehe .

05 Dec

@Bunda Rini....mudah-mudahan suami saya juga sudah menerima saya dengan berat badan yang semakin bertambah...hehehe .

05 Dec

Semakin lama bersama semakin menerima lebih dan kurangnya. Sabarnya bertambah bukan berat badannya saja yg bertambah. Mksh, bu Lupi. Sehat dan berkah utk ibu dan keluarga...

05 Dec
Balas

Mudah-mudahan begitu ya Jeng..rela menerima, bukan mencari yang lebih sempurna...makasih Jeng Fila

06 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali