Marlupi

Hidup hanya sekali, harus berarti. Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar...

Selengkapnya
Simpan Sebentar Saja

Simpan Sebentar Saja

Bu Ninik guru BK senior di sekolahku, memang luar biasa. Telaten, sabar dan keibuan dalam menghadapi permasalahan pada siswa sehingga membuatnya begitu familier dan disegani. Siswa yang bermasalah maupun yang tidak pun tak segan-segan untuk konsultasi kepada Bu Guru BK yang satu ini. Bila ada yang ingin konseling , Bu Ninik dengan senang hati melakukannya. Bahkan Bu Ninik selalu berangkat lebih awal setiap hari, sehingga mempunyai waktu lebih untuk menyapa dengan anak-anak.

Namun siang itu Bu Ninik yang biasanya lembut dan tak pernah bersuara tinggi dalam ruang konsultasi, baik pada siswa maupin wali tampak begitu serius.

"Mohon maaf Bapak. Kita sedang mendiskusikan putra Bapak, tolong ponselnya disimpan dulu," kata Bu Ninik

'Eh maaf Bu. Ini ada hal penting," jawab orang tua Diko.

Diko adalah siswa yang agak spesial di kelasnya. Selain jahil dan usil, dia suka membully teman-temannya

Parahnya lagi, anak.ini tidak respek terhadap guru dan pelajaran.

"Lho ini juga penting kan Pak? Mumpung kita bisa bertemu,"jawab Bu Ninik agak kesal, karena yang diajak berdiskusi malah asyik dengan ponselnya sendiri.

Cerita seperti di atas, bukan hal yang baru dan aneh di zaman now. Benda kecil yang mampu mengalahkan apa pun. Namun sungguh sangat ironis, ketika sedang berdiskusi dengan orang lain kita malah asyik dengan ponsel kita sendiri. Jangan salahkan anak-anak ketika mereka tidak menghargai orang-orang di sekitarnya, karena ternyata para orang tua pun memberi contoh yang tidak tepat. Anak adalah peniru yang handal. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar akan direkam dengan sempurna.

Kita bisa menyimpan sebentar ponsel ketika sedang berdiskusi, terlebih ketika membicarakan masalah yang terkait dengan keluarga kita. Apalagi buah hati yang sangat membutuhkan perhatian. Janganlah menyerahkan anak seratus delapan puluh persen kepada pihak sekolah. Sesungguhnya pendidikan, perkembangan mereka adalah tanggung jawab bersama.

Ponsel hanyalah benda mati yang mempermudah urusan kita dan dapat dikelola dengan baik. Dimatikan pun ia diam saja, tidak masalah. Janganlah kita menjadi orang yang pura-pura sibuk atau Perhatikan dan hargai orang terdekat karena merekalah sahabat nyata kita yang sesungguhnya. Mari lebih bijak dalam menggunakan ponsel kita.

#gawaiohgawai#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Oke Bun. Melayani sepenuh hati.

20 Jun
Balas

Iya Pak..tapi kadang gemes juga..Barakallah Pak Tanto

20 Jun

Seharusnya, kitalah yang mengendalikan ponsel, bukan justru sebaliknya. BTW inilah tantangan yang tengah kita hadapi.

20 Jun
Balas

Betul Pak..salah satu tantangan guru zaman sekarang. Sudah ngomong panjang lebar, eh yang diajak ngomong asyik dengan gawainya sendiri..hadeeeh...salam sehat dan sukses Pak.. Barakallah

20 Jun

Benar Bund, salah satu efek negatif dari adanya ponsel hingga tidak mampu bersikap bijak. Sukses selalu dan barakallahu fiik

20 Jun
Balas

Iya Bund..tantangan bagi guru zaman now ya..harus cerdas bermedsos..barakallah Bun..

20 Jun

Saya sebagai orang tua setuju sekali Bun...Gawai memiliki pengaruh yang luar biasa...Seharusnya kita yang mengatur gawai dan bukannya gawai yang mengatur kita...Mantaps tulisannya...Salam sehat dan bahagia...Barakallah adik cantik...

20 Jun
Balas

Sepakat Kak..semoga penggunaannya bisa lebih bijak dan tepat. Sehat dan sukses selalu.. Barakallah ya Kak

20 Jun

Ini kenyataan yang kita hadapi Ibu. Ada santri umurnya 5 tahun tidak bisa duduk tenang kalau tidak memegang gawai dan tidak mau makan kecuali sambil nonton gawainya. Barakallah Ibu Marlupi

20 Jun
Balas

Iya Abah.. Orang tua mestinya bisa menjadi contoh , karena anak-anak adalah peniru yang handal.. Terima kasih Bah, barakallah..

20 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali